Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2020

Dibuka tapi separuh, tetap merepotkan

Kalau musyawarah mufakat belum tercapai, mungkin voting yang jadi jalan untuk memutuskan.
Ya memang itulah yang terjadi. Untuk memutuskan pagar portal dibuka atau tetap ditutup seperti yang saat ini, pengurus RT tidak bisa memutuskan sendiri.

Sebagian warga menghendaki portal pagar tetap ditutup seperti saat ini mengingat pandemi belum juga berakhir. Sedangkan sebagian warga yang lain ingin portal pagar dibuka dengan pertimbangan gerbang gang di RT lain portal pagarnya sudah dibuka.

Akhirnya pengurus RT mengadakan "acara" voting melalui WA grup warga. Pilihannya ada dua, "Setuju Ditutup" (seperti saat ini) atau "Setuju Dibuka separuh". Dan hasilnya, suara terbanyak memilih Setuju Dibuka separuh.


Ada yang menarik dari voting tersebut. Ternyata ada beberapa warga yang tidak ikut voting. Dan setelah dicermati lagi, mereka yang tidak ikut voting adalah warga yang setiap harinya menggunakan mobil untuk aktivitasnya. Mungkin mereka merasa "tidak terwakili" dalam pilihan yang ada. Karena pilihannya hanya ada dua, "Ditutup" atau "Dibuka separuh". Harusnya ada pilihan lain "Dibuka semua".

Kalaupun dari hasil voting suara terbanyak adalah Dibuka tapi separuh, ya jelas ini nggak ngefek  bagi warga pengendara mobil. Tetap merepotkan. Mereka tetap harus turun membuka portal pagar yang masih tertutup sebagian, dan setelah memajukan mobil, harus turun lagi untuk menutupnya kembali seperti semula.

YANG PALING TIDAK DIREPOTKAN
Dengan adanya portal pagar di gerbang gang, yang paling direpotkan adalah warga pengendara mobil. Dia harus dua kali turun dari mobil. Yang pertama turun untuk membuka portal pagar. Setelah memajukan mobilnya, turun lagi untuk menutup portal pagar seperti posisi semula.

Bagi warga pengendara roda dua, nggak perlu turun dari motornya. Portal pagar cukup ditarik sambil menggeser motornya, dan kemudian menariknya kembali untuk menutupnya. Namun ada juga yang  harus turun dari motor karena tidak bisa membuka dan menutup portal pagar sambil tetap di atas motor.

Dan yang paling "tidak direpotkan" oleh portal pagar adalah warga pejalan kaki. Karena buka tutup portal pagar sudah seperti buka tutup pagar di rumahnya. Gak pakai ribet.... [eddy herdyanto]


Selasa, 30 Juli 2019

Review Pesan Dari Ibu, Gegara Kapsul Cicak

Tidaklah terlalu mudah. Itulah ungkapan yang tepat dalam mencoba membangun ingatan orang tua yang sudah berumur hampir 90 tahun untuk mengingat "peristiwa penting" yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Tapi alhamdulillah, berkat campur tangan Allah lewat percakapan awal yang dilakukan kakak, akhirnya "peristiwa penting" itu berhasil diingat kembali oleh orang tua.

Semuanya berjalan lancar. Perbincangan demi perbincangan akhirnya menghidupkan kembali ingatan orang tua. Padahal "pertemuan" ini tanpa perencanaan, tanpa settingan, alias spontan dan mendadak.

Pesan almarhumah ibu, dalam satu pertemuan lengkap yang dihadiri semua anggota keluarga pada beberapa tahun lalu merupakan "peristiwa penting". Dan hari ini "peristiwa penting" yang sempat dilupakan oleh orang tua (bapak) akhirnya berhasil diingat kembali.

Kepiawaian kakak dalam berbincang dengan orang tua sangat berperan pada hari ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dan salah tafsir berkaitan dengan pesan dari (almh) ibu.  [*]

Sabtu, 27 Juli 2019

Review Pesan Dari Ibu, Tenes 280

Tenes dan 280,  malam Minggu (Sabtu, 27/72019) adalah saat serah terimanya. 
Jadi sdh resmi, sudah deal .
Yangkung dan kakak tertua yang hadir.
Alhamdulillah ....  [*]

Sabtu, 31 Desember 2016

Tahun Baru, Ganti Kalender Tanpa Ganti Bulan

Tahun baru, untuk sebagian orang identik dengan 'gegap gempita', identik dengan konvoi, kembang api, terompet, makan-makan dan aktivitas lainnya.
Hakekat tahun baru adalah pergantian dari tahun sebelumnya ke tahun berikutnya. Dan pergantian ini sebetulnya beda tipis dengan ganti bulan, atau ganti hari atau bahkan ganti jam.
Namun yang jadi beda 'tebal' dalam pergantian tahun adalah GANTI KALENDER. Dan kalender itu tidak akan pernah terulang lagi, tidak akan pernah dipakai lagi. Siapapun pasti setuju .....
Beda dengan bulan, hari, tanggal ataupun jam, semuanya akan terulang dan terulang lagi.
Yang namanya bulan tetap ada 12 nama, dari bulan Januari hingga Desember, dan akan kembali ke Januari lagi.
Demikian pula dengan hari, tetap ada 7 nama dari Senin hingga Minggu dan akan kembali ke Senin lagi. Begitu pula dengan tanggal dan jam. Tanggal paling banyak 31. Tidak ada tanggal 32 dan seterusnya. Jam juga demikian, paling 'mentok' jam 24 alias sehari cuma ada 24 jam, gak bakalan ada sehari 25 jam.
Pertanyaannya adalah apakah diri kita juga ikut "berganti" seperti pergantian tahun, dari yang kurang baik jadi lebih baik. Dari yang sudah baik menjadi semakin baik??

Sabtu, 26 Desember 2015

IKHLAS

Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Rabu, 09 April 2014

Cara Lain Golput

Beberapa saat setelah nyoblos di TPS  dekat rumah, saya sempat berbincang dengan tetangga. Ia seorang dokter dari Makasar yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK Unair. Saya tanya kenapa ia tidak menggunakan hak suaranya. "Saya sudah apatis", ujarnya. Pemilu legislatif ini baginya tidak memberikan sesuatu yang baru.

Selasa, 01 April 2014

Tak Terasa, Lebih 3 Tahun

Tak terasa lebih 3 tahun saya tidak 'mancal' sepeda lagi. Setelah operasi itu memang aktivitas mancal menjadi mandeg. Kawan-kawan yang dulu rajin juga tidak terlihat mancal, tenggelam dalam aktivitas lainnya, seperti ikut senam tiap hari Minggu.

Minggu, 20 Desember 2009

"Pesan" dari Bunda

Minggu pagi tadi setelah bersepeda dengan Kiki, kami singgah di rumah darmawangsa. Tidak banyak yang kami lakukan, karena memang niatnya cuma singgah sebentar. Saat akan pulang (sekitar jam 7 pagi) ibu (eyangnya Kiki) berpesan yang intinya adalah "40% dr rewin, 50% dr tenis". Hal itu dsampaikan ibu dengan minta "disaksikan" oleh Kiki. Apa isi pesan selengkapnya, silakan ikuti catatan berikutnya (kalau ada!)

Minggu, 27 September 2009

Antara B dan S

Pulang dari pusat perbelanjaan di kawasan Surabaya Selatan, saya menggunakan taxi S. Maklum karena di plasa tersebut tidak ada pangkalan taxi B, "langganan" saya.
Karena sudah malam dan waktu pulang yang bersamaan dengan pengunjung lain, saya tidak bisa memilih. Yang tersedia hanyalah taxi S, itupun cuma 1 unit. Ya terpaksa saya naik juga.

10 Bulan Seperti 6 tahun

Bila dibandingkan antara 4 bulan dengan yang 6 tahun, tentu sangat beda. Tapi kalau dibandingkan dengan 10 bulan, mungkin agak sepadan. Ini masih menyangkut layanan dari taxi B yang saya alami.
Kalau pengemudi yang baru 4 bulan memberikan layanan sesuai standard perusahaan (lihat tulisan sebelumnya "Bedanya 4 bulan dan 6 tahun"), kali ini saya dilayani oleh pengemudi yang sudah malang melintang di dunia taxi sejak tahun 1993. Sebelum bergabung di taxi B, pak sopir ini sudah pernah bekerja di 2 perusahaan taxi, yang satu diantaranya adalah taxi yang pernah jaya pada jamannya. Mengaku baru 10 bulan bergabung dengan taxi yang saya naiki, namun "perilaku" dalam melayani tamu (sebutan untuk penumpang) ternyata nggak jauh beda dengan yang sudah 6 tahun. Bahkan persis pleg, tidak ada bedanya.
Andai saja semua pengemudi memberikan layanan seperti yang baru bekerja 4 bulan, citra perusahaan akan semakin baik. Mungkin layanan yang diberikan pengemudi yang baru bekerja 4 bulan ini bisa disebut hangat-hangat tahi ayam. Atau karena masih baru dan masih dalam masa percobaan, takut dipecat. Surabaya, 24 September 2009

Kamis, 09 Juli 2009

Menuju Pulau Dewata #1


Kemarin pagi (8 Juli 2009), di saat banyak orang mempersiapkan diri untuk berangkat menuju ke bilik TPS, saya justru bersiap diri untuk menuju stasiun kereta api Surabaya Kota. Tujuannya  tentu akan naik kereta api, bukan mau mencontreng. Waktu yang mepet dengan jadwal keberangkatan kereta api Mutiara Timur yang akan saya tumpangi terpaksa membuat saya jadi golput.

Kalau waktu Pileg (pemilihan caleg) TPS dibuka jam 7 pagi, untuk pilpres kali ini baru dimulai jam 8 pagi. Dengan hati berat akhirnya saya harus segera menuju stasiun. Padahal rencana semula, kalau acara pencontrengan itu dimulai jam 7 pagi, saya beserta rombongan kecil akan daftar dan minta waktu untuk urutan yang pertama. Namun ternyata aturannya berbeda. Dengan terpaksa saya (beserta rombongan kecil) tidak menggunakan hak pilih.

Jam 8 sudah menuju stasiun
Kereta berangkat pukul 09.15 dari stasiun Gubeng Surabaya. Namun rombongan kecil saya memilih berangkat dari stasiun Surabaya Kota. Pertimbangannya jelas, agar tidak terburu-buru saaat naik dan lebih leluasa dalam mencari nomor tempat duduk dan menempatkan tas dan barang bawaan.karena rangkaian kereta Mutiara Timur awal berangkatnya dari stasiun Surabaya Kota. Padahal kalau dari rumah jaraknya justru lebih jauh daripada ke stasiun Gubeng. Karena itu jam 8 pagi kami sudah berangkat menuju stasiun Surabaya Kota.

Ada 2 tiket dengan nomor tempat duduk yang sama
Rombongan kecil saya memperoleh tempat duduk nomor 2A, 2B, 3A, 3B, 3C pada kereta Eksekutif no 1. Ternyata setelah sampai di stasiun Gubeng penumpangnya cukup banyak. Dalam gerbong yang saya tumpangi sudah 95% terisi. Bahkan ada penumpang yang tempat nomor tempat duduknya sama dengan penumpang lainnya. Padahal mereka sama-sama beli tiket di stasiun Gubeng untuk jadwal keberangkatan yang sama. Kok bisa ya hal itu terjadi, padahal penjualan tiket dilakukan secara komputerisasi yang terintegrasi dengan stasiun lainnya di Surabaya.

Penumpangnya Penuh, Yang Dewasa Tidak Nyontreng
Dari pengamatan saya sepintas, hampir semua rangkaian kereta Mutiara Timur ini baik yang kelas Bisnis maupun Eksekutif semuanya terisi penuh. Sebagian besar adalah penumpang dewasa, baik yang akan turun di Jember maupun Banyuwangi. Berarti para penumpang dewasa ini juga tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres kali ini. Surabaya, 8 juli 2009

Kamis, 11 Juni 2009

Pilih mana, Paguyuban atau Arisan

Saya jadi ingat, arisan yang digagas warga di kampung saya beberapa tahun lalu tujuan sebenarnya adalah untuk paguyuban. Dari pada cuma kumpul-kumpul aja, akhirnya "ditumpangi" dengan acara arisan. Pesertanya memang belum semua warga, ada sekitar 34 kepala keluarga. Masih ada sebagian kecil yang belum ikut acara tersebut. Namun dalam perkembangannya menyedihkan. Yang hadir tiap bulan selalu menyusut. Bagi yang tidak hadir mungkin berpendapat toh saya sudah “narik” (dapat arisan), kan tinggal bayar tiap bulannya aja. Sehingga cukup nitip ke tetangga yang hadir.
Kalau dikembalikan ke tujuan paguyuban, sebetulnya semua warga harus hadir karena itu merupakan forum untuk “rembug kampung”. untuk membahas dan mencari solusi bila ada masalah di wilayah RT, atau hal lain yang perlu dibicarakan bersama.

Karena Nitip

Minggu sore lalu saya ditelepon tetangga tentang acara arisan yang akan diselenggarakan malam harinya. Dalam perbincangan itu tetangga ini juga menanyakan perkiraan jumlah orang yang datang karena ini terkait dengan jumlah konsumsi yang akan disiapkan. Saya sarankan untuk menyiapkan konsumsi untuk 40 orang. Kalau konsumsinya kurang tentu ini akan membuat malu si tuan rumah yang ditempati arisan. Akhirnya si tetangga ini sepakat.
Malam harinya ternyata yang hadir di luar perkiraan. Bukan melebihi dari jumlah konsumsi yang disediakan tapi malah jauh meleset di bawah. Secara iseng saya hitung bapak ibu yang hadir pada acara arisan itu, ternyata kurang 30 orang. Setelah saya cermati ternyata sebagian besar yang tidak hadir adalah mereka yang telah mendapat arisan. Mereka yang tidak hadir ini semuanya nitip ke tetangga dekat rumahnya.

Selasa, 30 September 2008

Sepurane Yo !

Setetes embun di pagi hari

Menyongsong datangnya sinar mentari

Dengan ketulusan dan kerendahan hati

Ijinkan kami mohon maaf di hari yang fitri

Kamis, 25 September 2008

Mudik Lebaran dan Hutang

L

autan manusia dengan membawa beberapa tas dan berbagai barang bawaan tanpa ada yang mengomando, berbondong-bondong menyerbu terminal bus dan stasiun kereta api. Ini bukan aksi unjuk rasa, tetapi sebuah kejadian rutin yang dapat kita jumpai setiap tahun menjelang hari lebaran. Gelombang mudik lebaran mengalir demikian hebatnya seperti air bah yang tak tertahankan lagi. Orang rela berebut dan berdesakan dalam kendaraan umum. Harga tiket yang melambung berlipat-lipat tak jadi soal, asalkan mereka bisa sampai di kampung pada saat Lebaran.

Mengapa mereka ngotot untuk mudik di waktu lebaran?

Di kampung pada masa Lebaran orang dapat menemukan banyak hal yang tidak mereka temukan di kota yang sistem kehidupannya amat kompetitif dengan gaya kehidupan yang sudah mulai mengarah kepada individualisme. Mereka dapat menikmati –meskipun hanya sesaat-- suasana perkampungan yang masih diselimuti gairah persaudaraan yang belum terjamah oleh gaya individualistis.

Budaya kita yang senantiasa menganjurkan sikap hormat dan menjunjung tinggi orang tua juga ikut menciptakan semangat mudik ini. Dengan pulang kampung mereka bisa menemukan kehangatan berjumpa dengan keluarga, terutama bagi yang masih mempunyai orang tua. Sedang bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia mereka akan berziarah ke makam orang tua dan leluhurnya, serta bersilaturahmi dengan sanak keluarganya.

Bagi orang-orang kecil yang sepanjang kehidupannya dihimpit berbagai tekanan, lebaran di kampung memberi makna kembali kehadirannya sebagai manusia. Eksistensinya sebagai manusia seakan mereka temukan kembali walaupun itu hanya beberapa hari. Demi menemukan eksistensi diri yang hilang itulah mereka rela berebut dan berdesakan dalam kendaraan umum. Tak lupa pula baju baru dan oleh-oleh yang cukup banyak juga menjadi “suatu kewajiban” bagi mereka yang mudik lebaran. Nampaknya hal itu juga akan menunjukkan eksistensi diri bagi mereka karena akan menjadi simbol kesuksesan mereka di kota. Dan semua itu harus dibayar dengan harga yang tidak murah.

Ironisnya tidak semua orang bisa mewujudkan hal tersebut dengan mudah terutama bagi yang elit (ekonomi sulit). Di antara mereka tidak sedikit yang tetap memaksakan diri untuk bisa memenuhi “kewajiban” itu. Sehingga demi mendapatkan uang dalam tempo singkat mereka menempuh alternatif dengan cara mencari pinjaman (hutang) atau pergi ke pegadaian (baik yang resmi maupun yang gelap) untuk menggadaikan barang berharga yang masih dimilikinya agar dapat mudik di waktu lebaran. Namun begitu lebaran telah usai, sekian banyak tanggungan hutang akan menghantui kehidupannya.

Mudik waktu lebaran memang telah menjadi tradisi yang tidak begitu saja bisa diubah. Atau barangkali memang tidak perlu diubah dan tidak perlu dihilangkan, karena memang sudah merupakan hak setiap orang untuk pulang kampung. Yang perlu dihilangkan adalah dampak negatif yang timbul dari mudik di waktu lebaran itu sendiri. Setuju?